
Dana gak tahu mana yang lebih berisik; deru mesin motornya atau degup jantungnya yang memompa seolah organnya akan meledak detik itu juga.
Pukul sembilan malam. Begitu saja Dana teringat Dane yang begitu sensitif soal udara. Apa Dane pakai jaket saat keluar? Apa dia sudah sampai di rumah Odi sekarang? Apa dia baik-baik aja? Semua pertanyaan itu menginvasi pikirannya.
Dana gak tahu di mana atau kapan salah di antara mereka bermula. Mungkin sejak perasaan asing yang Dana enggan sebutkan namanya itu hadir tiap kali Dane menatap matanya. Atau mungkin ketika rasanya gak tepat menahan rasa sebesar itu disaat Dana sendiri gak punya kapasitas menampungnya, lalu paksakan melepas rasa itu pelan-pelan.
Pun Dana gak tahu kalau untuk melepas, harus ada sesuatu yang dikorbankan sebagai bayaran.
Dan mungkin, hanya mungkin, inilah bayaran yang dimaksud.
Otaknya kosong tatkala matanya temukan figur yang familiar. Seolah ada batu besar yang memaksa naik dari perutnya untuk dimuntahkan, sewaktu Dana bisa dengar suara orang itu meski samar.
Itu Zidane.
Danenya.
Dia berjongkok, biarkan punggung itu bertemu sorot mata Dana. Dane gak pakai jaket, tubuhnya kelihatan menggigil. Mungkin wajahnya sudah merah sekarang. Mungkin besok dia bisa flu. Mungkin—
Tapi Dana gak berani mendekat. Alas sepatunya seperti menginjak lem di atas permukaan blok di bawah pijakan kaki. Kedua tangannya terkepal di masing-masing sisi, menggantung bingung kendati otaknya memberi perintah untuk, paling tidak, memeluk Dane yang kedinginan.
“I must’ve go… Is it okay if I leave you here alone, Meng?”
Dayu itu mampir ke telinga Dana seperti angin pantai yang berhembus tenang. Perlahan-lahan, mengikat jantungnya supaya berdetak lebih kencang dari ini. Sepatunya bebas, kakinya melangkah mendekat. Sekat di antara mereka menipis, Dana berdiri tepat di belakang yang lebih muda sehingga kini bayangannya mungkin disadari eksistensinya. Pada saat itulah, Dane menoleh.
Matanya membola.
Matanya yang merah menatapnya. Terkejut, kemudian diganti dengan sesuatu yang terlalu takut Dana tafsirkan artinya.
“Dana? Why are you here…?”
Kucing yang sedari tadi mengobrol dengan Dane pun kabur, seolah mengerti untuk berikan spasi kepada dua remaja yang butuh komunikasi.
Ketika Dane berdiri, dia gak diberi waktu melanjutkan keterkejutannya karena tubuhnya sekonyong-konyong jatuh dalam pelukan Dana yang erat. Terlampau erat.